Berita soal susu formula dan makanan bayi yang mengandung bakteri itu sudah meresahkan banyak orang. Tak terkecuali aku yang masih seneng2nya bermain dengan anakku yang baru berusia 9 bulan.
Payahnya lagi, sudah tahu masyarakat panik, pemerintah, Balai POM bahkan pihak IPB yang merilis hasil penelitian ini. tak segera berupaya menenangkan masyarakat dan sempat justru saling tuding.
Yang bikin jengkel lagi, saat membaca tulisan salah seorang praktisi kesehatan di kolom opini sebuah harian nasional beberapa hari yang lalu. Ia menyatakan kita tidak bisa terlalu menyalahkan pihak produsen, karena ada kecenderungan masyarakat kita yang menyukai hal-hal yang berbau instan lebih tertarik pada warna dan tampilan produk yang menarik serta harga yang lebih murah daripada pertimbangan dari segi kualitas dan kesehatan. Khusus untuk konteks susu ini, rasa2nya pendapat itu kurang pas. Dengan mahalnya harga susu formula saat ini, konsumen (termasuk saya…) tentu akan membeli susu yang harganya relatif lebih murah. Itupun jika dihitung2, anggaran untuk membeli susu formula ini sudah cukup menguras isi kantung dan gaji bulanan.
Yang lebih ironis lagi, sebagai bentuk sikap protes mereka terhadap pemerintah yang diangap membiarkan susu formula dan makanan bayi yang mengandung bakteri ini beredar di pasaran, para ibu di Jakarta malah membuang berkotak-kotak susu formula. Mereka mungkin lupa karena emosi sesaat, bahwa masih banyak balita yang membutuhkan susu formula karena ketidakmampuan daya beli orangtuanya maupun bencana…..
Ihhhgg…Memang gemes banget deh sama pemerintah ini. Lupa apa mreka, klo yg mengonsumsi susu formula ini calon-calon penerus bangsa…
Oleh: Wini on Maret 9, 2008
at 3:00 pm
biasa…soal susu memang cenderung ditutup-tutupi
Oleh: rajadobol on Maret 23, 2008
at 8:08 am
welaaa,,kok ndak diupdate lagi? udah bosenkah?
Oleh: ika on April 23, 2008
at 7:41 am
jadi malu nih…udah lama nggak update…lg heboh di kantor, jd blm sempat ngenet lg..;-P
Oleh: indra on April 24, 2008
at 8:36 am